Stocks

Pentingnya Proteksi Jiwa: Karena Musibah Tak Pernah Mengetuk Pintu

Kabar tak mengenakkan datang kemarin siang. Ya, terjadi kecelakaan mobil tunggal di sebuah ruas jalan tol yang menimbulkan korban jiwa sepasang suami istri. Anak semata wayang mereka selamat bersama pengasuh dan supirnya. Mengantuk dan kelelahan menjadi alasan terjadinya insiden maut itu.

Kejadian itu membuat kita sadar betapa pentingnya proteksi dalam manajemen keuangan kita. Proteksi yang harus direncanakan paling tidak ada dua: dana darurat dan asuransi. Asuransi pun dibedakan menjadi asuransi kesehatan (askes) dan asuransi jiwa (asji). Kedua jenis asuransi tersebut memiliki perbedaan fundamental. Penerima manfaat askes adalah diri sendiri, sedangkan untuk asji, penerima manfaatnya adalah orang lain.

Banyak orang yang familiar dengan askes namun sedikit yang paham dengan asji. Askes biasanya berupa pertanggungan dari sakit yang meliputi operasi, rawat inap, rawat jalan, dll. Dalam hal ini manfaatnya diterima oleh si yang sakit itu.

Sedangkan asji beda. Karena yang meninggal adalah pemegang polis asuransi (atau si tertanggung), maka penerima manfaat adalah ahli warisnya. Dalam kasus meninggalnya orang tua, anak yang ditinggalkan sudah barang tentu kehilangan jaminan keuangan yang digunakan untuk menopang hidupnya. Apabila orang tuanya sudah memiliki cukup harta, it’s fine. Si anak menjadi ahli waris satu-satunya sehingga aset yang dia terima bisa untuk membiayainya sampai paling tidak dia bisa mendapatkan pekerjaan. Namun apabila si orang tua belum memiliki cukup warisan yang bisa untuk menyambung hidup keluarga yang ditinggalkan, maka asji menjadi krusial untuk dimiliki.

Dalam asuransi ada istilah uang pertanggungan (UP) dan premi. Premi, atau premium dalam bahasa Inggris, adalah biaya yang dibayarkan oleh pemegang polis kepada perusahaan asuransinya. Di Indonesia banyak sekali perusahaan asuransi yang bisa dijadikan pertimbangan. Ada Allianz, Prudential, Manulife, hingga yang berbasis Syariah seperti Takaful, dan masih banyak yang lainnya. Premi ini bisa dibayarkan bulanan, semesteran, hingga tahunan, sesuai dengan kebijakan masing-masing perusahaan asuransi. Sedangkan UP adalah besaran warisan/uang yang akan diberikan kepada ahli waris jika si tertanggung meninggal dunia. Asji lebih simpel dari askes sehingga memudahkan kita untuk memilih. Asji yang bagus adalah yang preminya murah dan UP-nya besar. Tentunya masih harus membaca dengan detail terms and conditions yang ada.

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih asji adalah besarnya uang pertanggungan yang dibutuhkan dan berapa premi yang bisa dibayar sesuai dengan kemampuan ekonomi kita.

Uang Pertanggungan

Karena dalam asji uang pertanggungan diperuntukkan kepada ahli waris, maka kita harus tahu berapa kebutuhan ahli waris kita. Paling tidak ada dua pendekatan yang bisa digunakan.

Pendekatan pertama, warisan yang diterima harus bisa digunakan untuk menghidupi anggota keluarga yang ditinggalkan, dengan asumsi yang meninggal adalah pencari nafkah utama. Untuk itu harus tahu berapa kebutuhan hidup tahunan. Misal, biaya hidup tahunan 120 juta rupiah (10 juta per bulan). Skenarionya, uang pertanggungan yang didapat nanti akan diinvestasikan semua untuk mendapat return tahunan. Misalkan uang tadi ditaruh semua di deposito yang menjanjikan return tahunan 5%. Maka uang pertanggungan yang dibutuhkan adalah 2,4 miliar. Atau kalau tahu cara investasi di saham, maka bisa berharap return at least 11% setahun (rata-rata pertumbuhan jangka panjang IHSG), maka nilai uang pertanggungan yang dibutuhkan adalah sekitar 1,1 miliar.

Pendekatan kedua dengan memakai rumus kira-kira. Buku Money Quest pernah membahas asji ini, dan ditulis di sana bahwa uang pertanggungan asji adalah sepuluh kali penghasilan tahunan, dalam hal ini 1,2 miliar.

Premi yang Ideal Berapa?

Untuk menentukan premi ideal yang harus dibayarkan tentunya harus melihat pendapatan masing-masing. Asuransi ini ibaratnya batu penahan agar kereta harta kita tidak melorot (baca book review Money Quest). Batu penahan tersebut ukurannya harus pas, tidak boleh terlalu besar dan tidak boleh juga terlalu kecil. Kalau terlalu kecil, maka batu itu tidak akan bisa menahan melorotnya kereta harta. Sebaliknya kalau terlalu besar, maka justru akan menghalangi kemajuan kereta harta kita ke tujuan finansial yang diinginkan. Idealnya, premi asuransi yang dibayarkan tidak lebih dari 15% pendapatan, baik asji dan askes. Kalau saya sendiri mematok maksimal 10% pendapatan. Karena saya lebih berpandangan untuk menambah porsi investasi saya daripada membeli proteksi asuransi. Namun setiap orang bisa jadi memiliki pandangan yang beda-beda.

Setelah ketemu UP dan premi yang ideal berapa, tentunya harus disesuaikan dengan keadaan ekonomi masing-masing. Sebagai ilustrasi, Rico yang seorang kepala keluarga berpenghasilan 10 juta sebulan ingin membeli asji. Dia menghubungi asuransi Prudential. Kepada agen Rico menyampaikan kebutuhan UP sebesar 1 miliar. Agennya menginfokan salah satu produk asji Prudential yang berbasis unit link dengan premi 12,5 juta rupiah per tahun bisa memberikan UP senilai 1 miliar dengan ditambah lagi nilai investasi yang didapat. Rico menghitung, premi 12,5 juta rupiah yang akan dia bayarkan adalah 10,5% penghasilannya. Karena sudah masuk dalam budget-nya, Rico akhirnya membeli asji tersebut. Rico merasa uang yang dia keluarkan worth it dengan manfaat yang dia terima. Apabila dia meninggal dunia, dia merasa uang 1,2 miliar yang diwariskan bisa untuk menjamin sekolah anak-anaknya, paling tidak sampai lulus kuliah. Apabila ternyata di luar budget, maka Rico bisa menurunkan UPnya, menjadi hanya 700 juta mungkin, atau mencari perusahaan asuransi lain yang menawarkan produk yang lebih menarik. Yang jelas, pastikan anda sudah melakukan perbandingan paling tidak dengan tiga perusahaan asuransi yang berbeda. Saya sendiri menghubungi lima. Hal ini penting agar kita benar-benar membeli produk asuransi yang kita butuhkan dan yang terbaik bagi kita.

Sebagai penutup, mind set membeli asuransi ini haruslah diniatkan sebagai proteksi, bukan investasi. Asuransi dibeli sebagai upaya antisipasi terhadap hal-hal buruk yang mungkin terjadi di masa depan. Ada pun skema unit link yang jamak ditempelkan ke produk asuransi haruslah dianggap hanya sebagai bonus saja, bukan tujuan utama.

Share :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *